Meskipun saya cukup mampu dalam pengorganisasian dan penyuntingan konten, saya sering kewalahan saat mengoperasikan perangkat. Bahkan untuk alat sederhana seperti perekam suara dengan hanya beberapa tombol—rekam, berhenti, maju cepat, mundur cepat, putar—saya kerap melakukan kesalahan.

Kejadian paling memalukan terjadi pada tahun 1993, ketika saya mewakili Nanfeng Chuang (Southern Window) untuk melakukan wawancara bersama dengan Perdana Menteri Guangzhou saat itu, Li Ziliu. Jurnalis Xinhua bertindak sebagai pewawancara utama, sedangkan saya bertugas merekam dan mencatat. Entah menekan tombol yang salah, setelah beberapa saat saya menyadari pita rekaman telah keluar dari kasetnya. Untungnya sang walikota tidak menyadarinya, saya segera memasukkan alat itu ke saku sambil menekan tombol berhenti.

Setelah wawancara selesai dan saya memutar ulang rekaman, ternyata sebagian besar isi tidak terekam. Saya pun terpaksa meminta bantuan jurnalis dari stasiun televisi, berdalih ingin memverifikasi versi rekaman agar bisa melengkapi isi tersebut. Kejadian ini meninggalkan trauma psikologis yang mendalam bagi saya.

Sejak saat itu, baik menggunakan perekam kaset, perekam digital, laptop pintar, maupun ponsel, saya selalu tak tahan untuk terus-menerus memeriksa status rekaman. Dalam wawancara penting, bahkan saya akan menggunakan dua ponsel secara bersamaan agar merasa lebih aman.

Suatu hari, saat membaca buku teks kuliah putri saya, saya menemukan buku The Design of Everyday Things karya Norman. Saat itulah saya merasa lega. Buku tersebut menjelaskan bahwa ketika produk bermasalah, orang cenderung menyalahkan diri sendiri, padahal penyebab utamanya justru terletak pada desain produk. "Kesalahan operasional seharusnya tidak dibebankan kepada pengguna, tetapi merupakan tanggung jawab produk dan desainnya."

Ternyata, bukan salah saya!

Meski secara mental sudah lebih rileks, di dunia nyata masih sulit menemukan perangkat perekam yang benar-benar "berpusat pada pengguna", memiliki "keterlihatan" dan "kemudahan pemahaman". Apalagi kini banyak wawancara dilakukan dalam bahasa Inggris, serta era media mandiri menuntut proses pengolahan dan publikasi yang cepat, tekanan tetap ada.

Perangkat AI Tambahan: Pengalaman Pertama Menggunakan Kartu Rekam DingTalk A1

Baru-baru ini, saat menghadiri CES (Consumer Electronics Show), saya mulai menggunakan kartu perekam AI DingTalk A1, dan akhirnya bisa sepenuhnya meninggalkan kecemasan merekam. Alat ini ditempelkan di belakang ponsel, mendukung fungsi pencatatan cerdas, ringkasan konten, penerjemahan real-time dalam 8 bahasa, serta kemampuan interpretasi simultan lebih dari 20 bahasa. Bahkan dalam lingkungan bising seperti pasar tradisional, alat ini tetap mampu mendengar dengan jelas, mencatat secara akurat, menerjemahkan tepat, dan membuat ringkasan yang baik, sehingga menjadi perangkat "AI tambahan" pertama saya.

Dari mesin perekam analog yang berat dan besar hingga kartu perekam AI modern seberat hanya 40 gram; dari proses manual menuju transkripsi otomatis, ekstraksi informasi, dan pembuatan notulen secara otomatis—perkembangan ini dengan jelas mencerminkan perjalanan zaman saya dari era informatika, digitalisasi, hingga kecerdasan buatan.

We dedicated to serving clients with professional DingTalk solutions. If you'd like to learn more about DingTalk platform applications, feel free to contact our online customer service or email at This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.. With a skilled development and operations team and extensive market experience, we’re ready to deliver expert DingTalk services and solutions tailored to your needs!

Using DingTalk: Before & After

Before

  • × Team Chaos: Team members are all busy with their own tasks, standards are inconsistent, and the more communication there is, the more chaotic things become, leading to decreased motivation.
  • × Info Silos: Important information is scattered across WhatsApp/group chats, emails, Excel spreadsheets, and numerous apps, often resulting in lost, missed, or misdirected messages.
  • × Manual Workflow: Tasks are still handled manually: approvals, scheduling, repair requests, store visits, and reports are all slow, hindering frontline responsiveness.
  • × Admin Burden: Clocking in, leave requests, overtime, and payroll are handled in different systems or calculated using spreadsheets, leading to time-consuming statistics and errors.

After

  • Unified Platform: By using a unified platform to bring people and tasks together, communication flows smoothly, collaboration improves, and turnover rates are more easily reduced.
  • Official Channel: Information has an "official channel": whoever is entitled to see it can see it, it can be tracked and reviewed, and there's no fear of messages being skipped.
  • Digital Agility: Processes run online: approvals are faster, tasks are clearer, and store/on-site feedback is more timely, directly improving overall efficiency.
  • Automated HR: Clocking in, leave requests, and overtime are automatically summarized, and attendance reports can be exported with one click for easy payroll calculation.

Operate smarter, spend less

Streamline ops, reduce costs, and keep HQ and frontline in sync—all in one platform.

9.5x

Operational efficiency

72%

Cost savings

35%

Faster team syncs

Want to a Free Trial? Please book our Demo meeting with our AI specilist as below link:
https://www.dingtalk-global.com/contact

WhatsApp